Setelah pertemuan pertama kita, kemarin sore.
Aku mulai merasa takut dan cemas bila akan kehilangan orang sepertimu. Bukan, bukan aku ingin berteman karena kamu memiliki background pekerjaan yang hebat. Tetapi, karna kamu memang seseorang yang sangat menyenangkan untuk berteman. Akupun sadar diri, tidak mungkin bila kita akan memiliki suatu hubungan seperti sepasang kekasih.
Malah, aku berharap dapat bersahabat denganmu. Berbicara denganmu sangat menyenangkan. Sudut pandangmu luas. Mendengar suaramu, menjadi candu. Melihat senyummu menjadi pemanis. Dengan kacamata yang terpasang diwajahmu, membuatmu menjadi lebih dewasa. Dan gayamu yang simple membuatmu lebih nyaman.
Berbicara denganmu ditemani kue tak berbentuk hasil karyaku itu. Dengan senja dan argumen-argumen ketika kita berdebat tentang "pilih uang atau keluarga". Membuat aku melupakan waktuku yang terbatas. Membuatku berfikir agar aku memenangkan pembicaraan kala itu.
Menjabat tanganmu, dan highfive-pun terasa menyenangkan. Namun, ketika aku mengucap "see you soon" itu membuatku takut. Takut seelah pertemuan itu kita akan berhenti berteman dan saling melupakan.
Wajarkah bila aku merindukanmu sore ini? Wajarkah bila aku menaruh harapan denganmu untuk bersahabat saja. Setidaknya itu akan bertahan lebih lama dibandingkan memiliki hubungan khusus bukan? Wajarkah bila aku ingin mempertahankan pertemanan kita? Wajarkah bila aku mengucap "semoga saja pertemanan kita bersifat longterm ya" dan di aamiin-i oleh dirimu. Wajarkah bila aku takut kehilangan sosok teman seperti dirimu?
Kamu mengucap 9 September nanti adalah hari lahirmu. Kita #virgoteam ya? Haha. Semoga saja memang kita dapat berteman lebih lama. Senang mengenalmu. Bahagia bisa bertemu denganmu. Sedih dengan perpisahan (semoga saja) sementara kita.
See you soon di januari dengan kue buatanku. Semoga saja tidak ada yang berubah kearah yang tidak aku inginkan sampai kapanpun. Maafkan keegoisanku ya.
Wajarkah karena pertemuan itu aku merindu dan kamu menjadi candu untuk senyumku?
Regards
Aku yang merindumu
Aku yang merindumu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar