Entah sampai kapan rasa ini akan tumbuh. Sekuat apapun
aku membunuhnya. Rasa ini semakin menjadi liar. Rasa ini semakin membuatku
terjatuh kedalam lubang yang sangat dalam. Berkali-kali ku coba untuk merelakanmu.
Aku berhasil. Berhasil melupakan rasa itu. Aku sudah bisa hidup tanpa bayang-bayang
kenangan denganmu. Aku kembali tersenyum tanpamu. Aku bisa menerima orang lain
untuk mengisi relung hatiku. Mewarnai hari-hariku.
Hingga suatu
saat, Kenyataan membawaku kepadamu (kembali). Aku hanya berharap ini sebuah
mimpi buruk ketika tertidur dipelajaran fisika. Ternyata aku salah. Aku terjaga.
Ini bukan mimpi, ini nyata. Hingga akhirnya aku tidak tau harus melakukan apa. Aku
hanya bisa termenung. Teringat dengan semua kenangan kita. Ini bukan masalah hati. Tetapi,
KENANGAN. Kenangan bersamamu yang selalu menghantui hari-hariku. Kenangan
bersamamu yang sulit aku lupakan, setidaknya aku lenyapkan untuk beberapa saat.
Selalu saja…
kenangan itu muncul seperti sebuah film layar lebar yang ditonton ribuan orang.
Yang membuat mereka iba, karna tokoh utama yang terlalu lemah bahkan bodoh
karna cinta. Karna kalimat manis yang meluncur dari bibirmu dengan lancar. Dan sang
tokoh utama terlalu lemah untuk mengetahui kenyataan yang ada. Dan membuat
penonton kesal dengan sebuah akhir yang menggantung tanpa kejelasan.
Kenangan
akan canda, tawa, dan air mata karena kamu. Tapi sayang, semua ini lebih menuju
ke air mata yang tiada henti diakhir pertemuan kita. Ketika aku terlalu
berharap mendapat akhir yang mengesankan diakhir pertemuan kita. Aku salah! Salah
besar. Aku bingung dengan semua kenangan
kita. Jika aku ingat kejadian yang ku lewati bersamamu.
Ketika kita
makan siang bersama. kamu bertanya tentang hubunganku dengan adikmu yang sudah
berakhir lama sekali. Aku bingung, dan aku memilih pura-pura tersedak saat kamu
menanyakan itu. Dan tanpa sengaja aku membahas adikmu lagi. Tapi apa yang
kudapat? Sebuah mimik muka yang tidak suka dan terlihat cemburu di wajahmu. Tetapi,
ketika aku menanyakan perasaan kamu. Kamu mengalihkan pembicaraan kita. Aku bingung.
Aku tidak bisa menebak maksudmu. Ketika aku membahas orang lain, kamu cemburu. Tapi
ketika aku membahas kejelasan hubungan kita, kamu menghindar.
Apa kamu
tau. Aku menutup hatiku untuk mereka yang jelas-jelas lebih baik dari kamu. Yang
mau berjuang untukku. Untuk meluluhkan hatiku. Tapi apa? Mereka menjadi angin
lalu dihatiku. Tidak seperti kamu yang bisa menetap entah sampai kapan. Aku selalu
mencoba membuka hatiku untuk mereka. Tetapi, hatiku tidak mampu menerima mereka
seutuhnya. Tidak seperti kamu yang seutuhnya ada dihatiku. Yaa, walaupun aku
tidak tau bagaimana makna hadirku dihidupmu. Aku bingung. Yang aku tau hanya
satu. AKU MENCINTAIMU! GAK PEDULI GIMANA PERASAAN KAMU UNTUK AKU. Egois? Memang.
Aku terlalu egois untuk memaksa kamu menerima aku.
Kini aku
sadar. Berada di posisi kamu sekarang sangatlah sulit. antara memaksa agar
menerima dia yang mencintaimu dengan tulus. Tapi kamu terpaksa menerimanya. Sama
saja membuat orang itu kecewa karna sikapmu. Atau membiarkannya terluka bersama
kenangan yang kamu buat dan sakit yang menyayat hatinya tanpa henti ketika
mengingatmu dan membuat dia mati rasa kepada semua orang. Maafkan aku yang
terlalu memaksamu untuk menerimaku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar